Memasui era globalisasi dan derasnya arus perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi, berdampak pada munculnya berbagai macam permasalahan
di segala bidang kehidupan manusia, tak terkecuali di bidang pendidikan, hal
tersebut bisa kita lihat dari munculnya berbagai kasus fakta yang terekspose di
media massa ataupun di media sosial, yang mengimbas pada sisi guru dan juga pada
sisi siswa. Dimulai dari kasus asusila guru terhadap siswanya, guru melakukan pemukulan
terhadap siswanya, perkelahian guru dan siswa, guru melakukan tindakan kriminal
dan permasalahan kompleks lainnya. Sedangkan dari sisi siswa muncul banyak
kasus, seperti perbuatan asusila, seks bebas, tawuran fisik, minuman keras,
merokok, narkoba, sering bolos sekolah, tidak sopan kepada guru, berani dengan
guru, intoleransi siswa dan permasalahan lainnya, sehingga memunculkan istilah
anak di zaman globalisasi sebagai generasi Baper
( Bawa Perasaan ) yaitu generasi yang tidak memiliki pijakan dan pegangan
hidup sehingga terombang ambing dalam pusaran negatif arus globalisasi. Hal
tersebut tentu sangat memprihatinkan seluruh komponen masyarakat dan bangsa,
sehingga muncul pertanyaan, ada apa dengan dunia pendidikan saat ini?
Dengan mengidentifikasi permasalahan diatas dapat kita analisa
bahwa tampak jelas telah terjadi degradasi moral yang cukup serius, baik itu
dari sisi guru sebagai pengajar dan juga dari sisi siswa sebagai peserta didik.
Degradasi moral yang terjadi menunjukkan dengan jelas adanya ketidakmampuan
seseorang dalam mengelola emosi dan juga spiritualitasnya guna merespon sebuah permasalahan.
Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan spiritualitasnya sangat erat
kaitannya dengan tingkat kecerdasan emosi (EQ) dan spiritual (SQ) yang dimiliki
orang tersebut. Sehingga diperlukan sebuah obat untuk mengatasi rendahnya
kecerdasan emosi ataupun spiritual orang tersebut, salah satu strategi yang dapat
diambil untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan Spiritual Teaching dalam proses pembelajaran.
Spiritual
Teaching adalah sebuah strategi belajar mengajar
untuk meningkatkan kecerdasan spiritual (SQ) seseorang, dengan latihan dan pembiasaan
secara kontinyu dan bermakna. Fokus utama pada Spiritual
Teaching adalah pengoptimalan titik God Spot pada diri manusia, dimana
setiap manusia memiliki potensi tersebut. Dengan latihan dan pembiasaan secara
terus menerus secara bermakna diharapkan mampu mengoptimalkan titik God Spot
tersebut dan melahirkan kecerdasan spiritual (SQ) yang optimal. Dengan optimalnya
kecerdasan spiritual (SQ) maka secara otomatis akan berdampak pada meningkatnya
kecerdasan emosi (EQ) dan intelektualnya (IQ), karena kecerdasan spiritual (SQ)
adalah landasan bagi optimalnya kecerdasan yang lainnya. Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan
kemampuan untuk mengenal siapa dirinya secara lahir dan batin dan mengenal
bahwa ada kekuasaan yang melebihi dari apa pun di dunia ini yaitu Sang Pencipta.
Manusia secara fitrah memang memiliki potensi untuk menghambakan Dzat di mana
dalam hubungan vertikal yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya. Manusia yang
memiliki sifat yang lemah, terbatas dan tergantung memiliki kecenderungan untuk
meminta perlindungan dan pertolongan kepada yang lebih darinya. Manusia yang
mampu mengelola kecerdasan ini dengan baik, maka hidupnya akan merasakan
ketenangan yang luar biasa nikmatnya. Di tahun 2000, dalam bukunya berjudul
”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian
Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala kecerdasan. Kecerdasan ini
digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan
adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan
hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat
apa potensi dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan
juga ada kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Kecerdasan
spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga,
dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta.
Dalam tradisi literatur Islam Spiritual
Teaching sama dengan pendidikan sufistik, karena keduanya berorientasi
untuk menata dimensi ruhani peserta didik agar memiliki kesadaran Ilahi yang
akhirnya menjadi manusia yang berkarakter akhlakul karimah. Pendidikan sufistik
adalah pendidikan yang bisa membuat orang memiliki sifat-sifat mulia, bukan
sekedar kognisi, tetapi lebih pada afeksi atau aspek kesadaran. Oleh karena
itu, pendidikan sufistik tidak hanya sebatas kearifan individual atau melakukan
ritual-ritual mistik dan cenderung lebih mengedepankan hubungan terhadap Tuhan dan
Rasulnya, tetapi juga yang terpenting, mengedepankan kesalehan secara universal
(Mulkhan, 2009: 4).
Pelaksanaan Spiritual
Teaching pada Kurikulum 2013 sebenarnya sudah diterapkan dalam proses pembelajaran
yang terumuskan dalam Kompetensi Inti I, namun kami melihat dalam pelaksanaannya
masih dalam tataran teori dan ritual, dan belum mengarah pada tataran makna,
sehingga langkah yang sudah baik perlu untuk dilanjutkan dan ditingkatkan dan
juga perlunya usaha untuk merumuskan langkah-langkah strategi secara teknis dan
bermakna. Beberapa langkah dan strategi dalam Spiritual Teaching yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran
di sekolah, di kelas atau di luar kelas antara lain ; Dari sisi guru dapat dibagi dalam beberapa tahap, tahap sebelum pembelajaran dimulai
antara lain seperti guru dikondisikan mendapatkan kajian-kajian rohani yang
berfokus pada peningkatan motivasi kerja untuk ibadah secara kontinyu, guru
dikondisikan termotivasi dengan nilai-nilai dalam kitab suci yang ada kaitannya
dengan motivasi bekerja untuk ibadah, guru dikondisikan mendapatkan sikap
teladan dari para nabi atau tokoh dalam agamanya dalam bekerja dan beribadah,
meluruskan niat sebelum bekerja, guru memasukkan nilai-nilai spiritual dalam
rencana pembelajaran, kemudian pada tahap pelaksanaan pembelajaran diupayakan
guru untuk selalu mengkaitkan konsep materi pelajarannya dengan nilai-nilai spiritual,
sehingga siswa memahami sebuah konsep materi pelajaran utuh secara ilmiah dan spiritual,
misalkan dalam mempelajari materi tentang rotasi bumi, ukuran bumi, jarak bumi
dengan matahari dijelaskan konsep secara ilmiah dan konsep secara spiritual (
Misalkan referensi dari kitab suci ), sehingga pemahaman siswa utuh terpadu sebagai
fakta ilmiah dan spiritual, selanjutnya pada tahap penilaian diupayakan guru
juga selalu memasukkan nilai-nilai spiritual dalam penulisan butir soalnya, dan
dalam kaidah penilaiannya. Kemudian dari sisi siswa langkah-langkah yang bisa diterapkan
adalah seperti penanaman nilai-nilai keimanan kepada siswa secara bermakna
sejak awal masuk sekolah, pembiasaan pembacaan kitab suci secara kontinyu, siswa
mendapat siraman ruhani secara kontinyu, pembiasaan kegiatan-kegiatan ritual
ibadah, kegiatan-kegiatan sosial, pembiasaan budaya hormat pada guru, pembiasaan
penerapan budaya 3S di sekolah, pembiasaan 7K, serta pemahaman nilai spiritual
dalam materi pelajaran.
Keefektifan Spiritual Teaching dalam pembelajaran dikarenakan berimplikasi pada kedua belah pihak, baik pada pihak
guru dan juga pihak siswa. Keberhasilan proses pembelajaran harus adanya
sinergi yang harmonis antara guru dan siswa, pada pihak guru, ketika guru
menerapkan metode Spiritual Teaching secara
bertahap akan merubah mindset guru dalam memposisikan profesinya. Dengan
menjalankan langkah-langkah dalam Spiritual
Teaching secara bertahap guru akan dikondisikan merubah dari sikap
materialistik, oportunistik menuju sikap sufistik ( Ruhani ), dimana mengajar
adalah sebuah ibadah, berorientasi kepada Tuhan, berorientasi kepada kehidupan
setelah mati, melayani siswa, memanusiakan siswa, melahirkan jiwa jiwa sosial,
lemah lembut, perhatian kepada sesama, dan yang terpenting adalah guru akan
menjadi teladan bagi siswanya, karena Spiritual
Teaching tidak berhenti pada tataran teori tapi juga keteladanan dalam
keseharian. Sedangkan pada pihak siswa, dengan guru menerapkan strategi Spiritual Teaching dan menjalankan langkah-langkah dalam proses pembelajaran, maka secara
bertahap siswa akan dikondisikan merubah kesadarannya dalam memposisikan
dirinya sebagai abdi Tuhan yang sedang belajar, memiliki prinsip dan pegangan
hidup, belajar sebagai ibadah, melahirkan jiwa jiwa tidak mudah putus asa dan
mampu merespon masalah dengan arif dan bijaksana.
Spiritual
Teaching dapat diibaratkan
sebagai sebuah obat untuk mengobati penyakit, sehingga keberhasilan dari obat
tersebut sangatlah tergantung dari peminumnya, apakah dia mau meminum obat
tersebut, menaati aturan pakainya, dan sesuai dengan petunjuk dokter. Begitu
juga dengan penerapan strategi Spiritual Teaching
ini, keberhasilannya sangatlah tergantung dengan pemakainya, yaitu seluruh
stake holder pendidikan dari kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, guru,
siswa, masyarakat, dan keluarga. Sehingga apabila semua pihak ikut serta dalam
mendukung pelaksanaan strategi dalam Spiritual Teaching tidak
mustahil bangsa ini akan melahirkan guru-guru yang
memiliki kecerdasan spiritual
(SQ), emosi (EQ) dan intelektual (IQ) yang tinggi sehingga akan dapat
melahirkan dan mencetak generasi-generasi
yang juga memiliki kecerdasan spiritual
(SQ), emosi (EQ) dan intelektual (IQ) yang tinggi. Tidak hanya memiliki
kecerdasan otak yang tinggi tetapi juga memiliki sikap, moral dan tingkah laku
yang luhur serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, generasi yang tidak
terbawa perasaan, terombang ambing dalam pusaran arus globalisasi yang begitu
derasnya, generasi yang mampu membawa bangsa ini keluar dari segala permasalahan
dan menjadi bangsa yang unggul.
Tidak ada komentar
Posting Komentar